Sajak ‘Jejak’ (Footprints) – Saat Luka Dilihat Dengan Cara Yang Berbeda

Sajak ‘Jejak’ (Footprints) – Saat Luka Dilihat Dengan Cara Yang Berbeda

"Hidup mungkin seringkali membuat anda kecewa, tapi bahkan kekecewaan pun bisa menjadi tidak nyata ketika kita melihat luka dengan cara yang berbeda" Penulis

Hebatnya lagi anda tidak butuh konsultan, dokter, psikiater, terapis untuk mengobatinya...., adakalanya anda hanya butuh sebuah sajak, benar...sajak, benak dan waktu sejenak. Dan lihat bagaimana beban pergi beranjak, ruang di dada pun tak lagi penuh sesak.

Bayangkan bagaimana hidup kita ketika terbebas dari semua tekanan hidup. Lebih produktif, mencipta mahakarya, hati yang hangat dan penuh syukur, kehidupan keluarga yang semakin berkualitas, atau sekedar merasa bahagia.

Bahkan jika hanya merasa bahagia yang bisa anda dapat dan dirasakan, anda pasti ingin membaca sajak kawan, mungkin juga menulis sajak setelah itu.

Sajak ‘jejak’ (footprints) berbicara tentang kerinduan untuk dekat dengan Tuhan, kebutuhan berdialog dengan Tuhan, keinginan berteman dengan Tuhan dan merasa aman ketika bersama Tuhan.

Siapa coba yang tak punya kerinduan tentang semua itu? Sepanjang hidup kita, bukankah itu arah yang selalu kita tuju?

Baca Juga : Kisah Sebuah Quote dan Pelajaran Tentang Rasa Takut

Beruntunglah kita yang mengenal produk budaya seperti sastra yang memberikan kita jalan untuk memuaskan kerinduan kita tentang cinta, kebenaran dan Tuhan.

Karya sastra, apakah itu prosa atau puisi / sajak bukan saja memperhalus intuisi tapi juga memberi tahu tentang arti keberadaan kita dalam hubungannya dengan sang pencipta

Bahkan jika itu lewat genggaman tangan sepasang kekasih yang menghalau rasa khawatir, saat berjalan di tepi pantai yang berpasir.

Sajak footprints adalah buah pena dari Margaret Fishback, seorang guru anak-anak Indian di Kanada. Seorang yang secara fisik sangat pendek dan kecil untuk ukuran orang Kanada. Tinggi badannya hanya 147 cm dengan tubuhnya ramping dan wajah yang halus seperti anak kecil.

Kondisi fisik seperti itu membuat ibu guru Margaret sering diberi karcis untuk anak-anak saat antri berdiri di depan loket atau ketika naik bus.

Margaret dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan penuh kasih. Namun ada beberapa peristiwa dalam hidupnya yang dirasakan sebagai pengalaman pahit dan tidak menyenangkan.

Seperti kenangan buruk tentang gurunya ketika menjadi murid kelas satu sekolah dasar. Margaret yang berlogat Jerman karena ayahnya berasal dari Jerman, selalu dipukul gurunya dengan sebuah tongkat kayu tiap kali melafalkan sebuah kata dalam Bahasa Inggris dengan logat Jerman.

"Jangan bicara dengan logat Jerman. Pakai logat yang betul, kalau tidak ... !" itu adalah kalimat ancaman favorit gurunya. Tiap hari ia berangkat ke sekolah dihantui oleh rasa takut. Dia heran mengapa ia selalu dimarahi. Apa salahku ? Apa salahnya orang berbicara dengan logat Jerman ? 

Di kemudian hari ia tahu bahwa pada waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia II, sehingga orang Jerman sangat dibenci oleh orang Amerika dan Kanada.

Margaret juga pernah dibully oleh dua teman perempuan di kelasnya yang kebetulan berbadan besar dengan cara menjatuhkan Margaret dan mendudukinya dibagian perut sambil digelitiki hingga Margaret merasa kehabisan nafas.

Saat itu ia memang diselamatkan oleh orang yang kebetulan lewat, namun ia menjadi begitu ketakutan sampai ia jatuh dan pingsan.

Beberapa hari kemudian ia terbaring sakit, namun rasa ketakutannya dirasakan hingga beberapa bulan.

Saat dewasa. Petir pernah menyambar tubuh Margaret sampai ia jatuh terpental di lantai, di suatu siang saat cuaca buruk ketika ia mengajar di kelasnya.

Walaupun telah dirawat selama beberapa waktu di rumah sakit, ada bagian dari pengalaman hidupnya yang tidak tersembuhkan.

Jika membaca sajak footprints kita mungkin akan berasumsi kalau pengalaman buruk dalam hidupnya berkonstribusi dalam penulisan sajak tersebut.

Namun momentum yang menginspirasi penulisan sajak tersebut adalah saat Margaret dan Paul (tunangannya) berjalan di pantai dalam perjalanan menuju tempat perkemahan di utara Toronto untuk memimpin retret.

Setelah melepaskan sepatu mereka lalu berjalan bergandengan tangan di pantai yang berpasir. Saat berjalan kembali ke arah mobil mereka, mereka melihat ke dua pasang jejak kaki mereka dipasir pantai. Namun di tempat-tempat tertentu gelombang air telah menghapus satu pasang jejak itu.

"Hai Paul, lihat, jejak kakiku hilang," seru Margaret. "Itukah mungkin yang akan terjadi dalam impian pernikahan kita?. Semua cita-cita kita mungkin akan lenyap disapu gelombang air," kata Margaret lirih.

"Jangan berpikir begitu," protes Paul. "Aku malah melihat lambang yang indah. Setelah kita menikah, yang semula dua akan menjadi satu...."

Lalu Paul menatap Margaret dengan tajam, "Margie, jalan hidup kita dipelihara Tuhan. Pada saat yang susah, ketika kita sendiri tidak sanggup berjalan, nanti Tuhan akan mengangkat kita. Seperti begini..." Lalu Paul mengangkat Margaret dan memutar-mutarnya.

Malam harinya sajak itu pun ditulis.

Esok harinya saat acara retret, sebelum membacakan sajak footprints Paul berkata. "... ada saat di mana kita merasa seolah-olah Tuhan meninggalkan kita. Musibah menimpa kita dan jalan hidup kita begitu sulit. Kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong kita. Sebenarnya Tuhan sedang menolong kita. (Bahkan) Tuhan sedang mengangkat (menggendong) kita"

Sajak lengkapnya silahkan baca : Sajak 'Jejak' (Footprints) Karya Margaret Fishback

You Might Also Like:

Share this:

Add Your Comment!
Hide Comment!

Disqus Comments