Kisah Sebuah Quote dan Pelajaran Tentang Rasa Takut

Kisah Sebuah Quote dan Pelajaran Tentang Rasa Takut

"Tuhan tidak akan membawa aku sejauh ini, kalau hanya untuk ditinggalkan" - Unknow

Seorang mahasiswa di salah satu Universitas Swasta di Riau pernah menuliskan quote tersebut sebagai motto di dalam laporan penelitiannya. Saat sesi akhir sidang kelulusan, dosen pengujinya bertanya 'ada apa dengan quote yang kau tulis...'.

"Suka aja sich pak...." jawab si mahasiswa sekenanya. Bukankah memang urusan motto seharusnya tidak masuk dalam kategori penting apalagi dianggap serius ?

Tapi masalahnya si dosen sepertinya kadung sudah serius bertanya. Ekspresi wajahnya tampak protes dan mengatakan "Ayolah....saya tau kamu bisa memberikan jawaban lebih baik dari itu"

Baiklah kalau begitu bapak, daripada nanti nilai saya kurang separoh mari kita bahas ini bersungguh-sungguh.

"Kalimat itu pak....bagi saya sedikit personal....karena setiap kali mengejanya saya bahkan bisa membaca semua yang pernah terjadi dan saya alami dalam hidup saya sampai saat ini...."

Atmosfir di ruang sidang itu pun perlahan-lahan tertarik ke satu titik. Mengitari orbit dan si mahasiswa sebagai pusatnya. Wajah-wajah yang ikut tersedot gravitasinya pun sepakat untuk menunggu, karena yang barusan itu masih bagian permulaan, masih akan diteruskan.

Sejenak tidak ada yang bersuara, tidak ada yang bereaksi apa-apa....., hanya jeda waktu...berdetik satu-satu. Sadarlah si mahasiswa kalau situasi ini sepertinya tidak akan berakhir secepat yang dia mau.

"Saya tidak tahu bagaimana awalnya, hanya setelah sedikit lebih dewasa saya menyadari kalau beberapa hal dalam hidup saya cenderung saya tanggapi secara berlebihan...dalam bentuk ketakutan. Takut ditinggal, takut ditolak, takut tidak dianggap, takut diabaikan, dan beberapa bentuk takut-takut yang lain"

"Saking takutnya pada penolakan terkadang saya bisa berkompromi dengan sangat berlebihan, dan itu hanya untuk mendapatkan 'perasaan diterima' dari orang lain. Sekelumit pengakuan yang mungkin palsu tapi memberi efek melegakan"

"Seorang teman bahkan pernah mengingatkan kalau yang saya lakukan sudah berlebihan...bahwa tidak perlu membahagiakan semua orang dan tidak ada yang salah dengan hal itu...., bagian otak logika saya mengatakan kalo itu benar tapi bagian emosi....saya takut....saya takut dianggap tidak cukup baik nantinya"

"Bukankah aneh pak...bu? Ada apa dengan 'perasaan bahagia saya?'. Ada apa dengan obsesi untuk menjadi 'cukup baik?'. Saya rasa saya masih harus menggali lebih dalam lagi"

"Dan seolah mengetahui bagian terlemah dalam struktur kepribadian saya, kehidupan mengambil manfaat dari itu. Kehidupan sepertinya suka melihat saya terjatuh...dan lagi-lagi karena ketakutan saya".

"Bagaimana tepatnya itu? Bisa kau jelaskan?". Satu dari ketiga dosen bertanya

Pertanyaan itu menyadarkan si mahasiswa kalau dari tadi apa yang dibicarakan hanyalah gambar-gambar yang dilihatnya dalam pikirannya sendiri, tidak dalam perspektif orang lain.

"Stabilitas pak, setiap orang butuh stabilitas untuk mereduksi ketakutan, apakah itu dalam hubungan, karir, finasial, sosial dan seterusnya. Untuk kasus saya itu tidak pernah terjadi. Kehidupan lebih tertarik melihat saya sebagai mahluk probabilitas....tertarik melihat kemungkinan-kemungkinan keputusan yang saya buat"

"Saya harus akui kalau keputusan yang saya buat seringkali salah....saya jatuh, saya kalah, dan kehidupan mungkin akan tersenyum sumringah"

"Bukankah ini sebuah ironi pak?. Dalam mekanisme reproduksi katanya setiap orang itu istimewa karena lahir dari sel pemenang setelah megalahkan jutaan sel lainnya dalam ajang kompetisi mencapai tuba fallopi sebelum akhirnya menyatu dengan sel telor"

"Masalahnya saya tidak merasa kalau saya istimewa. Jangan-jangan kelahiran saya dulu itu sebuah kebetulan, sebuah kecelakaan atau bahkan mungkin sebuah konspirasi dimana jutaan sel lainnya bersekongkol untuk mengalah...karena kasihan"

Terdengar ada yang tertawa perlahan, yang lainnya hanya sampai senyum-senyuman.

"Tapi saya...entah kenapa.....selalu bangkit dan berdiri....yaah tentu saja tidak mudah, saat itu mungkin saya tertatih sekedar untuk mengumpulkan kepingan keyakinan saya yang tersisa...bahkan jika itu masih ada"

"Seolah ingin membuktikan sesuatu...entah untuk apa dan kepada siapa, saya terus melakukan langkah pertama masuk ke wilayah yang sebenarnya saya takuti. Domain yang saya maksud disini....lebih  ke wilayah psikologis dibanding geografis"

"Saya mungkin takut penolakan dalam hubungan...tapi saya memilih untuk mengatakannya. Saya mungkin takut tidak bisa membayar uang kuliah..., boro-boro uang kuliah...makan aja susah, tapi saya tetap memutuskan untuk kuliah. Saya mungkin takut tidak bisa mencukupi kebutuhan di rumah tapi saya memutuskan untuk menikah"

"Setiap keputusan itu bukan tanpa alasan. Yang pertama unsur probabilitasnya....bahwa pada kenyataanya apa saja bisa terjadi bukan. Yang kedua, saya ingat setiap kali kesulitan yang saya hadapi sampai pada titik kritis, seolah tidak ada lagi jalan keluar....bantuan selalu datang dengan cara-cara yang tidak masuk akal"

"Selama kuliah misalnya setidaknya ada dua kali saya berpikir kalau saat itu adalah akhir dari masa studi saya...saya akan tammat sebelum waktunya. Tapi tidak, tanpa sepengetahuan saya teman-teman satu angkatan berinisiatif menggalang dana untuk membayar uang semester saya"

"Kejadian yang kedua, sekali lagi saya dihadapkan pada kenyataan kalau saya tidak bisa ikut ujian   karena belum bayar uang kuliah pada semester itu...tiba-tiba saya dipanggil menghadap Dekan...saya berpikir karena saya ada masalah kenapa saya dipanggil...tapi ternyata saya mendapat beasiswa....waktunya begitu sempurna"

"Begitu juga dalam hubungan, berakhirnya hubungan tidak pernah selalu mudah...tapi bagi saya itu justru awal baru hubungan lain yang lebih sempurna karena mendapat restu dari semesta. Lagipula ada yang pernah bilang bahwa untuk beberapa hubungan Tuhan mungkin hanya ingin mempertemukan bukan menyatukan"

"Tapi sejujurnya, pada saat-saat sulit seperti itu saya selalu berpikir kalau Tuhan meninggalkan saya, Tuhan lupa dengan keberadaan saya. Padahal sebenarnya tidak. Dia selalu menunjukkan jalan di saat-saat kritis. Yang saya ceritakan ini hanya sebagian kecil saja, masih banyak moment dimana Tuhan campur tangan saat semuanya tidak mungkin dalam hidup saya"

"Jika bapak - ibu pernah membaca sajaknya Margaret Fishback....."

"Aha...iya...." Ibu dosen pembimbing dua seperti merasa dezavu, berusaha mengingat sesuatu sambil mengerak-gerakkan tangannya ke arah si mahasiswa seolah meminta bantuannya untuk mengingat "Judulnya.......judulnya....?"

"Footfrints"

"Yah...jejak kaki.., coba bagaimana ceritanya?"

Si mahasiswa sedikit ragu apakah yang diminta dosen tersebut membacakan sajaknya atau menceritakannya. Tapi kemudian ia memutuskan untuk bercerita dengan begitu ia lebih leluasa untuk melihatnya sebagai bagian dari momentum saat itu.

"Dalam imajinasi Fishback, ia sedang berjalan dengan Tuhan di pantai yang berpasir. Karena yang berjalan dengannya adalah Tuhan maka ia tidak bisa melihat wujudnya tapi ia bisa melihat jejak kaki-Nya. Artinya selalu ada dua pasang jejak kaki saat dia berjalan dengan Tuhan di pantai yang berpasir"

"Namun Fishback memperhatikan, saat-saat paling sulit dalam hidupnya ia merasa Tuhan selalu meninggalkannya karena saat-sat seperti itu jejak kaki yang dia lihat hanya sepasang...bukan lagi dua"

"Fishback pun berkata kepada Tuhan, bukankah Kau sudah berjanji ya Tuhan jika aku setia kepadamu Kau tidak akan pernah meningalkan aku, Kau berjanji selalu berjalan bersamaku. Tapi kenapa saat-saat tersulit dalam hidupku Kau justru meninggalkan aku?"

Tuhan pun menjawabnya "Aku menyayangimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu bahkan pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun. Ketika kamu melihat hanya ada satu pasang jejak kaki, itu karena Aku sedang menggangkatmu (mengendongmu)"

Ada jeda yang mengambil masa beberapa jenak. Ada wajah-wajah dan atensi yang tidak beranjak.

"Saya pikir sajak ini mengandung semua pesan yang saya butuhkan saat kehidupan seolah tanpa harapan. Itu juga alasan kenapa saya suka dengan kalimat 'Tuhan tidak akan membawa aku sejauh ini kalau hanya untuk ditinggalkan' Karena bahkan seorang teman pun tidak sanggup melakukan hal itu (meninggalkan kita ditengah jalan) apalagi Tuhan"

"Saya berharap saya sudah menjawab pertanyaan bapak tadi pak" Katanya, merasa bahwa ini sepertinya sudah akan berakhir

Si dosen penguji tiba-tiba bangkit berdiri, menghampiri dan memeluknya, kemudian berkata sambil mengarahkan telunjukkan ke arah dada - bagian pembungkus luar dari hatinya dibagian dalam.

"Simpan itu terus disini ...karena bahkan setelah ini kehidupan mungkin masih akan terus menjatuhkanmu....dan tak penting seberapa banyak kau terjatuh...asalkan kau tetap bangkit berdiri...."

Si dosen pun beranjak kembali ke tempat duduknya tapi sebelum sampai ia membalik badan seperti baru mengingat sesuatu.

"Kau tau apa yang ingin diajarkan dari semua rasa sakit yang kau alami? " Seperti sudah menduga tidak akan mendapat jawaban, ia pun melanjutkan "Keberanian kawan...keberanian untuk percaya".

"Masalahnya untuk memiliki sebagian kecil keberanian  kau harus jatuh berulang kali....jadi bisa kau bayangkan jika kau butuh keberanian lebih besar lagi? Ya...kau harus jatuh berulang...ulang kali dan lagi"

***

Setelah enam tahun, kesulitan masih terus menjadi bagian dari hidup si mahasiswa itu, tapi kini ia lebih berani....berani untuk melawan rasa takut, berani untuk percaya bawah Tuhan itu ada dan mengasihinya.

You Might Also Like:

Share this:

Add Your Comment!
Hide Comment!

Disqus Comments