Sebuah Pagi Yang Menyeruak Di Secangkir Kopi

Sebuah Pagi Yang Menyeruak Di Secangkir Kopi

Kenali lebih dalam dan terpukaulah oleh lugunya sebuah pesona.....” Deskripsi dari rasa Kopi Tubruk

Bagi penikmat kopi seperti anda dan saya, matahari pagi itu tidak pernah terbit di ufuk timur tapi dari balik semerbak wangi secangkir kopi.

Karena prosesi minum kopi adalah ritual di pagi hari yang memastikan semua aspek kognisi full performansi dan siap berkonstribusi pada dunia sampai di penghujung hari.

Kopi yang dulunya kita perlakukan sebagai minuman penahan 'kantuk' kawan, kini berevolusi menjadi minuman yang membuat anda merasa gaya, bercita rasa bahkan menikmatinya dengan rasa bangga.

Kita sedang berada di era dimana ‘minum kopi’ bukan lagi soal 'tegukan' saja tapi ritual yang dirayakan dengan beragam cara, dimana makna yang terus diretas darinya belum juga menemukan titik batas.

Kopi - memang - adalah biji ajaib yang kandungannya tidak akan pernah habis dibahas sesaat setelah terseduh air panas. Waktu bahkan terkadang dibuat cemburu hingga melipat dimensinya untuk membuat detik cepat berlalu, hanya untuk menunggu rasa yang tersisa di dasar bejana (cangkir maksudnya hehehe...rima kalimatnya terlalu dipaksa ya)

Katanya lagi, kopi yang dipesan peminumnya adalah cermin kepribadian dari peminum kopi itu sendiri. Saya pikir ada benarnya karena pilihan kita pada objek tertentu hanyalah proyeksi dari substansi diri kita. Artinya objek yang kita pilih merupakan interpretasi, gambaran, wujud nyata dari sesuatu yang telah kita miliki pada dimensi mental.

Artinya lagi, komposisi yang kita temukan diluar diri kita, seperti dalam racikan secangkir kopi adalah manifestasi dari kecenderungan kita secara personal. Karena mustahil kita bisa mengekspresikan sesuatu yang tidak ada dalam diri kita.

Euforia budaya minum kopi ini juga yang (mungkin) menginspirasi Dewi 'Dee' Lestari saat menulis buku kumpulan cerita dan prosa satu dekade - Filosofi Kopi. Pun buku ini telah diangkat ke layar sinema.

Tapi saya tidak seberuntung anda kawan karena kenyataan saya belum menonton filmnya sampai hari ini. Setidaknya saya sudah punya gambaran seperti apa karakter tokoh Ben dan Jody - versi imaji saya sendiri.

Banyak hal yang menarik dari buku dan (mungkin) juga film Filosofi Kopi. Selain quote-nya yang kuat dan dalam, saya pribadi tertarik dengan tagline yang tertulis di kedai Filosofi Kopi yaitu 'Temukan Diri Anda Disini' (catatan : demi untuk tujuan shooting filmnya sengaja dibuat coffee shop sebagaimana dalam cerita bukunya, dan kedai kopi ini tetap dihidupkan bahkan setelah shooting filmnya selesai).

Apalagi jika anda melihatnya dalam sudut pandang seorang tokoh Ben (diperankan oleh Chicco Jerikho) - seorang Barista yang punya sense terhadap filsafat dan seorang yang ambisius dalam mengeksplorasi komposisi dari rasa kopi. Bagi Ben menemukan komposisi yang pas tentang rasa kopi adalah petualangan, perjalanan mencari dirinya sendiri.


Nama Dewi ‘Dee’ Lestari Simangunsong yang asli Batak tapi hidup di Kota Bandung ini adalah jaminan sebuah bacaan yang bagus dengan struktur kata yang kaya dan penuh dinamika.

Saya pun setuju ketika ada yang bilang bahwa Mbak Dee ini mestilah memiliki kecerdasan linguistik. Saya rasa semua bukunya layak berada dalam rak perpustakaan pribadi anda bersanding dengan penulis idola anda yang lain.

Tapi kita sedang berbicara tentang Kopi dan bukan tentang Dewi Lestari. Saya juga tidak tau apakah Mbak Dee ini peminum kopi sejati atau tidak, yang pasti euforia buku dan film Filosofi Kopi telah menambah satu lagi preferensi gaya hidup generasi muda di perkotaan yaitu minum kopi atau nongkrong di kedai kopi.

Jauh sebelum itu sebenarnya kopi beserta ritual dan budaya yang melekat padanya telah lama menjadi bagian gaya hidup. Dibuktikan dengan banyaknya coffiee blog dan coffee shop yang dibuat sebagai media berbagi informasi tentang kopi dan tentu saja sebagai referensi tempat minum kopi - di berbagai negara.

Misalnya blog sprudge.com, dailycoffeenews.com, juga jimseven.com yang dikelola James Hoffman, seorang tokoh kopi yang sangat dihormati di dalam industri coffee specialty plus penulis buku The Word Atlas of Coffee.

Berikutnya baristahustle.com milik Matt Perger yang mengulas secara luas aspek sains dalam kopi, berikutnya lagi thecoffeetographer.com situs yang tertarik membuat visualisasi budaya minum kopi, dan thecoffeecompas.com yang dibuat sebagai navigator dalam industri kopi bagi pembacanya.

Tentu saja tak ketinggalan dari tanah air, blog cikopi.com milik Tony Wahid seorang single origin trip (seorang traveler yang melakukan perjalanan dengan tujuan mencari referensi kopi)

Itu tadi blog yang membahas tentang kopi, berikut kedai kopi (coffee shop) yang dapat dijadikan referensi dalam petualangan minum kopi. Pilihan pertama adalah Revolver Espresso. Coffee shop yang berada di Jl. Kayu Aya / Gang 5 Seminyak – Oberoi Bali yang disebut-sebut sebagai ‘Markas Rahasia’ para penikmat kopi karena interior tempatnya yang ditata seperti markas mafia.

Filosofi Kopi juga masuk dalam list yang pantas menjadi referensi. Berada di Jl. Melawai VI Blok M Kabayoran Baru Jakarta Selatan membuat anda tidak butuh waktu lama untuk menemukannya jika anda berdomisili di Jakarta. List yang ketiga adalah But First Coffee, berada di Jl. Dharmawangsa Raya No. 4 Jakarta. Beberapa rekomendasi mengatakan tempat ini cocok bagi anda yang mencari tempat yang tenang ketika minum kopi.

Referensi berikutnya sedikit lebih jauh, tapi jika anda seorang petualang cita rasa kopi jarak tidak akan menghentikan pencarian anda, silahkan ke Takengon - Aceh Tengah untuk menikmati sensasi Kopi Gayo yang terkenal itu (source Otten Magazine).

Tapi tentu saja tidak setiap pemesan kopi adalah peminum kopi sejati karena peminum kopi sejati biasanya adalah seorang purist - seorang yang mencintai kopi hitam asli yang tak dicemari apapun.

Beda dengan social drinker yang memesan kopi hanya sebagai alasan untuk nongkrong. Bagi social drinker bukan soal 'minum apa' tapi 'nongkrong dimana' dan 'dengan siapa'

Dan kedai kopi (coffee shop) pun menjelma semesta kecil dimana manusia dan kopi melebur saling mengeksplorasi substansinya masing-masing dalam atmosfir yang hangat walau bukan kerabat, merasa dekat walau tanpa perekat.

Sebagaimana racikan kopi - ritual, budaya dan gaya hidup peminum kopi juga sebuah komposisi - perpaduan antara rasa, suasana, ekspektasi juga chemistry, pun tentang perkara teknis presentasenya ketika secangkir kopi yang disuguhkan di hadapan anda

Saya dulu minum kopi hanya tau tuang air panas aja ke dalam wadah yang sudah di isi bubuk kopi, itu pun Kopi Kapal Api - sesekali pernahlah dapat kiriman Kopi Sidikalang yang dibawa sodara pas pulang kampung

Dari sepuluh kali seduhan paling banter saya dapat satu kali rasa yang pas. Lebih sering ketemu rasa sedikit asam dengan buih yang menggumpal padahal saya sudah pastikan airnya mendidih. Agar tidak terlalu lama merasa kecewa sayapun bergumam kalau kopi-nyalah yang payah.

Dari seorang teman kemudian (ditambah ketika mencari bahan untuk artikel ini) saya pun tau kalo temperatur adalah faktor penting dalam menyeduh kopi. Kopi yang nikmat hanya dapat dihasilkan dengan temperatur yang tepat.

Lebih dari urusan temparatur, bagi anda penikmat kopi dengan metode manual mungkin sudah pada tau faktor apa saja yang bisa menghasilkan secangkir kopi nikmat. Mulai dari pemilihan biji yang segar, penggilingan yang tepat serta yang tak kalah penting adalah rasio air yang mempengaruhi rasa pada kopi.

Buat saya pilihan cuma satu - cara manual, karena saya mungkin akan kesulitan membuat kopi jika harus menggunakan berbagai macam alat coffee maker canggih yang banyak di promosikan banyak toko online itu.

Balik ke temparatur, cara paling sederhana untuk mengontrol temperatur air tentunya dengan menggunakan thermometer (boro-boro thermometer untuk seduhan kopi, alat pengecek panas anak yang diselipin di ketiak itu pun udah lama gak diganti).

Sebenarnya ada cara yang paling mudah, dengan membeli ketel leher angsa yang sudah dilengkapi dengan pengatur suhu di dalamnya. Seperti ketel Bonavita yang sudah dilengkapi dengan pengatur suhu sehingga mudah digunakan untuk memasak air dengan mengatur di suhu berapa air tersebut kamu didihkan.

Ketepatan temperatur air dalam menyeduh kopi akan sangat mempengaruhi proses ekstraksi (saat air panas mengeluarkan rasa pada bubuk kopi). Jika air yang digunakan untuk menyeduh terlalu panas, maka rasa kopi akan terlalu pahit. Sedangkan jika air yang digunakan terlalu dingin, maka rasa kopi akan terasa asam

Menurut National Coffee Association suhu air paling baik dalam membuat kopi idealnya adalah 195°F sampai 205°F atau 90 – 96 derajat celcius. Saya selalu kesulitan jika harus mendeskripsikan satuan ini dalam contoh nyata. Jadi kembali ke solusi di atas yaitu membeli ketel pemanasa air yang sudah ada pengatur suhunya.

Mengingat rasa kopi yang nikmat hanya mungkin di dapat dalam seduhan kopi dengan temperatur air yang tepat. Maka tidak ada salahnya berinvestasi untuk alat yang bisa memberi anda kopi nikmat untuk mengawali pagi anda setiap hari.

Terlepas dari semua perkara teknisnya, yang membuat ritual minum kopi ini selalu membuat kita merasa ecstasy adalah sensasinya saat ngopi itu sendiri, seperti Ben yang...

“... tidak sekadar meramu, mengecap rasa, tapi juga merenungkan kopi......, menarik arti, membuat analogi, hingga terciptalah satu filosofi untuk setiap jenis ramuan kopi..

Pesan dari rasa Kopi Tiwus di penghujung artikel “walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya


Kopi neng satu tanpa Gula....(lho koq?!) karena ia sudah manis dengan senyummu SAJA !

You Might Also Like:

Share this:

Add Your Comment!
Hide Comment!

Disqus Comments