Memahami Cara Kerja Iklan Kontekstual Berdasarkan Prinsip Gestalt

Memahami Cara Kerja Iklan Kontekstual Berdasarkan Prinsip Gestalt

Lose your mind and come to your senses- Frederick Salomon Perls

Saya yakin semua sudah tau apa itu iklan kontekstual - yang itu, satu dari tiga (sebenarnya empat – jika ditambah penargetan bahasa) mekanisme penargetan iklan yang dilakukan oleh google pada laman web.

Kalo belum, mungkin bisa googling dulu. Artikelnya sudah banyak yang nulis. Saya sudah cek di halaman pertama untuk kata kunci ‘iklan kontekstual’ hampir semua membahas  tentang ‘pengertian’ dan ‘manfaat’ dari iklan kontekstual.

Ada juga yang membahas cara kerjanya tapi sebenarnya yang dimaksud adalah cara penargetan iklan kontekstual itu juga, yang sebenarnya sudah dijelaskan oleh google di halaman support. Jika anda malas membuka tab lagi untuk mencari tau, saya akan kutip langsung dari google support.
Teknologi kami menggunakan sejumlah faktor seperti analisis kata kunci, frekuensi kata, ukuran fon, dan keseluruhan struktur tautan web, untuk menentukan tema laman web dan mencocokkan iklan Google dengan tepat ke setiap laman (Penargetan Kontekstual)

Pingin lebih jelas lagi, silahkan dimari : Optimasi Penargetan Iklan Kontekstual Adsense Dengan Passion

Manfaat iklan konstekstual? Sudah pasti untuk mengoptimalkan klik iklan adsense karena konteksnya sangat sesuai dengan minat pencarian user pada laman web. Karena alasan itu juga iklan kontekstual juga disebut iklan hasil pencarian

Tentang perbedaan pengertian yang saya maksud diatas, ‘memahami cara kerja iklan kontekstual’ adalah menggali lebih dalam prinsip yang mendasari penargetan iklan kontekstual dan kenapa model iklan ini sangat sesuai dengan psikologi perilaku pengunjung (khususnya persepsi visual) sehingga mampu mendorong pengunjung untuk melakukan klik iklan.

Sementara 'cara iklan ditargetkan’ adalah parameter yang digunakan google untuk menampilkan iklan tadi, yang berdasarkan konteks itu. Dimana bedanya? Yaah...yang pertama lebih ke deeply-lah (lebih eksplorartif gitu).

Kita sadari atau tidak cara kita mempersepsikan objek secara visual ditentukan oleh adanya kebutuhan untuk melihat apa yang ingin kita lihat (preferensi need). Faktor kebutuhan inilah yang membuat suatu objek visual bermakna atau tidak dalam sudut pandang kita.

Jika objeknya sesuai dengan kebutuhan maka objek tersebut menjadi bermakna tapi jika tidak maka kita cenderung mengabaikannya. Buktinya tidak semua laman web teman kita yang kita buka/baca bukan, kecuali yang sesuai dengan kebutuhan pencarian kita.

Seperti gambar gestal dibawah ini, apakah anda akan melihatnya sebagai 'siluet sebuah pohon' atau 'dua kepala binatang' yang sedang pandang-pandangan, tergantung kebutuhan (preferensi need) anda melihat pada saat itu.

Contohnya begini. Anggaplah barusan adik anda yang semata wayang minta tolong dibuatin gambar pohon untuk tugas sekolah, sementara anda gak ada pinter-pinternya gambar pohon. Tapi karena dia adik anda satu-satunya biasanya apapun bisa anda lakukan untuk dia, termasuk menjadi jago gambar dalam hitungan menit.

Di situasi seperti itu tiba-tiba saya nongol di hadapan anda, nyodorin gambar gestal ini sambil nanya ke anda "ini gambar apa?". Kira-kira anda bakal jawan apa? Kemungkinan terbesarnya 'POHON' jawabannya, (sebelum anda kemudian meminjam gambar saya itu untuk dibuat contoh tugas adik anda hehehe...).

Kenapa anda mengatakan itu gambar pohon karena paling sesuai dengan kebutuhan anda saat itu (mau gambar pohon untuk adik anda) padahal ada figur lain digambar itu (dua kepala binatang yang pandang-pandangan tadi).


Kalau digali lebih jauh lagi, ternyata cara kita mempersepsi objek visual sebagai sebuah gambar (pola) yang utuh direkonstruksi berdasarkan prinsip gestalt. 

Dalam prinsip gestalt disebutkan begini “seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat ..... sebagai (satu) kesatuan yang utuh” walaupun sebenarnya gambar (pola) yang terlihat itu terdiri dari beberapa bagian / elemen yang terpisah.

Ya...ya.... saya tau terlalu konseptual. Mari kita buat lebih konkrit lagi. Gambar dibawah ini adalah sebuah 'Poster Film Galih & Ratna'. Hehehe..., manfaatin momentum biar dibilang kekinian....


Melihatnya sebagai 'sebuah poster film Galih & Ratna' itulah 'keutuhan, satu kesatuan' yang kita persepsikan, dimana yang sebenarnya poster tersebut terdiri dari 'bagian / elemen' terpisah, seperti (elemen) figur tokoh di dalamnya (Refal Hady - Galih Rakasiswi, Sheryl Sheinafia - Ratna Suminar Satrowardoyo), (elemen) judul, (elemen) tanggal penayangan, (elemen) potongan adegan gambar dan bahkan (elemen) bingkai posternya.

Persepsi kitalah yang melihatnya 'secara utuh' sebagai Poster Film Galih & Ratna. Beda kalau...misalnya...kebetulan anda melihat foto Sheryl Sheinafia (pada situasi yang berbeda), dalam ukuran standar, sendiri, pakai baju tidur pula (maunya). Kira-kira kita bakal bilang gak itu poster film Galih & Ratna. Gak mungkin kan ya....., Karena foto Sheryl Sheinafia ini (jika ditinjau berdasarkan poster film tadi) hanya satu bagian elemen pembentuk Poster film itu.

Aliran ini dalam psikologi awalnya muncul di Jerman, dipelopori oleh Kurt Koffka, Max Wertheimer, dan Wolfgang Köhler sebagai kritik terhadap aliran strukturalisme Wundt yang berkembang pada saat itu.

Lanjut ke prinsipnya. Bukan tadi sudah Bro?. Yang kita bahas barusan konsep prinsip gestal secara umum - tentang elemen-elemen objek visual yang dipersepsikan sebagai satu kesatuan sementara bagaimana setiap elemen itu dipersepsikan sebagai satu kesatuan lain lagi.

Menurut tokoh-tokoh gestalt diatas apa yang dilihat (dipersepsi secara visual) sebagai satu kesatuan yang utuh sejatinya dibangun berdasarkan proximity (kedekatan), similarity (kemiripan), closure (ketertutupan), continuity (keterkaitan), symmetry (simetris) dan figure & ground atau background.

Mari kita tinjau satu per satu implementasinya dalam iklan kontekstual

#1 Proximity atau kedekatan.

Prinsip ini di dasarkan pada kecenderungan manusia dalam mengelompokkan objek (biar mudah dibaca : elemen) yang memiliki keterkaitan, kemiripan, dan hubungan antar bentuknya. Elemen-elemen yang berdekatan posisinya cenderung akan dikelompokkan sebagai suatu kesatuan.

Contoh prinsip kedekatan dalam gestalt dapat dilihat pada logo U (Unilever) yang jika diperhatikan di dalam hurup U itu sebenarnya tersusun atas banyak simbol-simbol (baca elemen) yang berdekatan, namun ketika dilihat dalam satu kesatuan akan tampak sebagai pola hurup U.


Implementasinya dalam iklan konstekstual adalah prinsip kedekatan unit iklan dengan konten atau laman web secara keseluruhan, yang membuatnya tampak menjadi bagian dari konten laman sebuah web. Seperti iklan yang diletakkan di dalam body artikel (baik di paruh diatas, tengah atau akhir artikel).

Bagaimana dengan iklan yang di bawah menu header atau sidebar ? Kan gak dekat dengan artikel Mas Bro?

Mungkin anda benar. Yang perlu anda tau juga, skalabilitas ruang visual yang kita persepsikan juga memiliki tingkatan tapi tetap dalam konteks keutuhan, seperti space artikel dan space laman web. Nah iklan yang anda maksud tetap dekat dalam skalabilitas space laman web.

Bahkan jika anda tidak setuju iklan yang anda maksud bisa kita tinjau berdasarkan prinsip gestalt berikutnya, yaitu...

#2 Similarity atau Kesamaan 

Persepsi visual manusia bisa bekerja menjadi lebih mudah dan efektif karena kemampuannya melakukan seleksi pengelompokan pola atau unsur menjadi satu kesatuan berdasarkan satu kesamaan.

Misalnya gambar dibawah ini, tiga bagian ujung yang runcing dibawah kepala burung cenderung dipersepsikan sebagai bagian dari semua ujung yang runcing dalam lingkaran yang membungkus kepala burung tersebut. Padahal ketiga ujung runcing itu sejatinya terpisah.

Perlu diketahui bahwa kesamaan (similiarity) dalam konteks ini tidak selamanya dalam bentuk, bisa juga dalam ukuran, warna atau yang lainnya.


Implementasinya dalam iklan kontekstual bisa dalam kesamaan jenis font, ukuran font, ukuran unit iklan dengan image pendukung konten, bisa juga dalam kesamaan warna font atau kesamaan warna link iklan dengan link dalam konten laman.

Nah walaupun tadinya kita menggangap tidak terpenuhi prinsip kedekatannya dalam artikel (walaupun sebenarnya 'masih' jika dilihat dalam konteks laman) kontekstualitasnya masih tetap di dapat berdasarkan kesamaan jenis dan ukuran font, image artikel dan image iklan, warna link pada artikel dengan warna link pada iklan.

#3 Continuity atau Kesinambungan

Sesuatu objek yang dipersepsikan sebagai gambar yang utuh terkadang sebenarnya terdiri dari atas sekelompok elemen gambar yang memiliki berkesinambungan (continuity). Seperti tampak pada layout website dibawah ini.

Prinsip kesinambungan dalam gambar tersebut adalah petunjuk arah melalui figure pria yang wajahnya melihat ke kanan untuk menunjukkan content utama dalam layout website tersebut.

Jadi baik si figure pria dan 'Button' Right yang berwarna merah adalah elemen terpisah namun dalam layout web tersebut dipersepsikan sebagai satu kesatuan.


Prinsipnya dalam iklan kontekstual adalah pada artikel pada laman web itu sendiri. Selama iklannya kontekstual maka artikel (bahkan image pendukung artikel) dapat menjadi penunjuk arah untuk objek/konten utama (iklan) (menurut versi penayang) dengan catatan selama iklannya relevan.

Mudahnya begini, kembali ke artikel tentang kopi, jika saya seorang penikmat kopi pastinya saya peduli dengan bagaimana cara membuat kopi yang nikmat.

Dan jika ada ‘sesuatu’ (iklan alat penyeduh kopi yang membuat kopi nikmatnya berlipat-lipat) dalam tangkapan visual mata saya saat membaca artikel tentang kopi mestilah ia memenuhi 'preferensi kebutuhan saya tentang kopi’, dan sangat mungkin untuk saya klik demi untuk mencari tau lebih lanjut. Yang artinya artikel yang saya baca bisa berperan sebagai elemen pemberi arah pada iklan.

#4 Figure & Ground

Sebuah elemen yang terpisah dalam tangkapan visual mata bisa juga dipersepsikan sebagai satu kesatuan dengan permainan background.

Dalam prinsip figure & ground, jika satu objek yang secara visual terdiri dari dua atau lebih elemen yang berbeda, maka ada kecenderungan untuk menentukan satu bagian sebagai elemen utama dan menjadikan yang lainnya sebagai pendukung (latar)

Gambar gestal di bawah ini mungkin tidak relevan dalam konteks bahasan kita, karena yang kita ambil adalah prinsipnya dimana background yang menjadi latar dari elemen gambar bisa bersifat mengaburkan batas pemisah dari dua elemen gambar sehingga memunculkan karakter gambar (dalam kasus kita adalah karakter konten) yang utuh.

Sebaliknya juga dapat semakin menegaskan batas pembeda dari dua elemen gambar yang memang berbeda.


Prinsip ini dalam kinerja iklan kontekstual terdapat dalam permainan background iklan dan bcakground konten yang dapat mengaburkan jarak persepi visual (bukan jarak interval) antara iklan dan konten laman sehingga iklan dan konten sama-sama sebagai elemen yang membentuk satu karakter konten yang utuh, dengan kata lain iklan adalah bagian dari konten dan konten bagian dari iklan.

Jadi begitu saja.

Tapi koq cuma empat mas bang.... kan prinsipnya ada enam ?

Yup, benar sekali. Sebenarnya dua prinsip yang lainnya juga digunakan (closure dan symmetry) hanya saja banyak penayang iklan yang tidak terlalu memusingkan tentang kedua prinsip ini sehingga pendapat saya mungkin akan terbantahkan dengan sendirinya.

Misalnya prinsip closure (ketertutupan), terlepas dari banyak yang menganjurkan untuk tidak menggunakan border dalam unit iklan pada kenyataan banyak juga percaya bahwa penggunaan border (dengan penyesuaian warna) justru dianggap baik untuk keamanan akun dan katanya juga tidak terlalu berpengaruh pada klik iklan.

Begitu juga tentang prinsip summetry (simetris). Posisi kesejajaran iklan dan konten secara simetris (seperti iklan paruh atas artikel, maupun di sidebar paruh atas) mungkin memberi hasil klik maksimal tapi bisa saja faktor penyebabnya bukan karena kesejajaran tapi karena faktor above the fold iklan itu sendiri – yaitu faktor keterlihatan iklan di paruh atas tanpa harus melakukan scrolling down.

Tapi boleh jadi karena saya yang tidak bisa melihat fungsi implementasinya. Mungkin nanti ada yang lebih bisa menjelaskannya....siapa tau.

Salam.

You Might Also Like:

Share this:

Add Your Comment!
Hide Comment!

Disqus Comments