Glocalities - Ketika Produk Lokal Menjangkau Pasar Global

Glocalities - Ketika Produk Lokal Menjangkau Pasar Global

"local is the new global..."

Artikel kali sebenarnya artikel lanjutan dari Media Online - Menakar Masa Depan Portal Berita Lokal, yang pada salah satu point-nya membahas tentang bagaimana memposisikan sebuah portal berita lokal agar bisa bertahan, menang dalam persaingan dan dapat berkonstribusi secara global

Bahasan tentang konsep 'local is the new global' pada bagian akhir artikel tersebut masih terasa mengambang karena belum sampai pada contoh konkrit implemetasinya. Pun kenyataan artikelnya sudah terlalu panjang (2.525 kata) membuat pembaca cenderung lelah duluan sebelum selesai membaca (tidak human friendly).

Harus diakui bahwa konsep diatas kedengaranya lebih mudah diucapkan (dituliskan tepatnya ya) daripada dilakukan. Untuk pemahaman awal mari kita mulai dengan mengartikannya sebagai upaya untuk mengembangkan potensi sumber daya daerah (lokal) baik itu produk budaya maupun industri pertanian, atau gabungan diantara keduanya.

Emang ada Bang ? 

Ada.

Sebelum saya menunjukkannya. Saya ingin mengatakan terlebih dahulu bahwa konsep local is the new global tidak hanya dapat dimaknai dalam kaca mata pemasaran produk industri pertanian atau budaya.

Di ranah bisnis informasi pun dapat diterjemahkan, misalnya pendapat yang mengatakan bahwa bisnis informasi di abad ini ditentukan oleh dua hal yaitu konten dan lokalitas - content is King, locality is Queen. 

Konsep local is the new global juga dapat dipahami sebagai sebuah gagasan untuk mengajak melakukan aksi partisipasif di lingkungan daerah masing-masing sebagai bentuk kepedulian pada isu global (minimal nasional).

Misalnya mengatasi masalah-masalah yang terjadi dalam lingkup desa dengan tindakan-tindakan kecil secara gotong-royong tanpa harus selalu melaporkan atau mengeluhkan masalah tersebut ke Gubernur (mentang-mentang berteman dengannya di media sosial)

Konsep ini juga dapat dipahami dalam sudut pandang seorang jurnalis ketika melihat ekses suatu kebijakan yang dibuat di pusat terhadap usaha kecil masyarakat kelas bawah, misalnya ketika seorang wartawan senior Pikiran Rakyat yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi di media tersebut membuat asumsi adanya korelasi antara kenaikan harga BBM dengan semakin mengecilnya ukuran gorengan.

Terlepas dari luasnya makna interpretasinya, konsep ini sebenarnya masih kurang diminati orang Indonesia, pengecualian untuk sebagian diantaranya yang bahkan langsung mengeksekusi dalam tindakan nyata.

Orientasi orang Indonesia pada umumnya masih lebih banyak berpikir tentang hal yang terlalu besar yang sejatinya berada di luar kapasitasnya. Sehingga cenderung mengabaikan hal-hal yang tampak kecil tapi penting di sekitar.

Dalam tulisan ini, justru pada hal-hal kecil disekitar itulah kita akan mendudukkan konsep local is the new global, yang akan dipahami sebagai bisnis lokal yang orientasinya global.

Gagasan yang mendasari scale-up bisnis ini - yang meyakini produk bisnis lokal akan mampu menarik perhatian market global adalah nilai keunikan dan keistimewaan produk bisnis lokal itu sendiri yang hampir sulit ditemukan pada pasar yang lebih luas.

Bukan saja produknya yang kemungkinan hanya bisa ditemukan di satu wilayah geografis tertentu - karena alasan perbedaan iklim, kondisi tanah, letak geografis yang mendasari produksinya. Produk industri pertanian lokal sering kali juga adalah produk "budaya" lokal, yang lahir, tumbuh, berkembang di wilayah tersebut

Itulah kenapa sebuah produk lokal dapat memenuhi kriteria sebagai produk industri pertanian sekaligus produk budaya.

Ini dia salah satu contoh yang memenuhi kedua kriteria tersebut - Ubi Cilembu


Pernah dengar ?

Belum

Keterlaluan !

Dengar gak pernah Pak, tapi baca iya.

Oh iya..., saya yang salah. Itu maksud saya !!!! Grrrrhhhh...

Ubi Cilembu adalah produk unggulan dari Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Karena keunikan produk industri pertanian ini Gubernur Jawa Barat sendiri secara resmi mengatakan bahwa Ubi Cilembu Sumedang merupakan salah satu produk unggulan bidang Pertanian Jawa Barat.

Keunikan yang membuat Ubi Cilembu istimewa, bukan hanya karena rasanya yang manis karena dapat mengeluarkan cairan seperti madu, tapi karena Ubi Cilembu hanya dapat tumbuh dengan baik jika di tanam di Desa Cilembu

Menurut admin blog desacilembu.com +Mang Lembu yang sengaja mendedikasikan blog tersebut sebagai media untuk 'menduniakan Ubi Cilembu dan meng-Ubi Cilembu-kan dunia', meskipun Ubi Cilembu dapat di tanam di daerah lain, tetapi kualitas dan kuantitas hasil produksinya tidak sebaik jika di tanam di Desa Cilembu.


Hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukan Mahasiswa dan lembaga penelitian dari Unpad, ITB dan IPB juga mendukung asumsi tersebut, yang menyatakan bahwa kandungan dan unsur hara tanah yang ada di desa cilembu sangat berbeda dengan ditempat lain, termasuk air dan iklim yang berpengaruh terhadap rasa manis dan legitnya Ubi Cilembu.

Bukan cuma aspek produksinya yang khas sehingga istimewa, Ubi Cilembu juga diselimuti legenda yang merupakan nilai jual dari aspek budayanya. Jangan kira mitos atau legenda tidak punya nilai jual kawan. Banyak daerah tujuan wisata di Indonesia yang sekses menjual mitos tentang lokasi wisatanya.

Orang mungkin tertarik menikmati Ubi Cilembu setelah mendengar mitosnya. Karena penasaran, jangan-jangan legenda itu memang benar adanya. Cerita Ubi Cilembu yang melegenda itupun masih tetap lestari karena diceritakan secara turun temurun pada masyarakat Desa Cilembu dan masyarakat di seputar wilayah kabupaten Sumedang

Ceritanya berawal dari penyamaran Pangeran Sumedang menjadi seorang kakek tua renta dalam misi blusukan keseluruh wilayah kekuasaannya. Dalam penyamarannya sampailah ia ke Desa Cilembu, dimana secara kebetulan warga desa Cilembu pada saat itu sedang panen ubi.

Karena moment-nya panen ubi Sang Pangeran Sumedang yang dalam penampilan seorang kakek tua yang renta itu pun disuguhi ubi (Ya iyalah...masak iya disuguhi Spaghetti). Si Pangeran pun menikmati hidangan ubi dengan senang hati. Karena tersentuh dengan keramahan dan keikhlasan warganya, Sang Pangeran Sumedang pun bersabda,

"Ubi yang manis dan sangat legit ini kelak akan jadi ubi yang mengangkat dan mensejahterakan rakyat desa (ini), dan ubi ini tidak akan bisa ditanam ditempat lain...". Setelah tamunya pergi warga pun menyadari bahwa tamunya yang tampak sebagai kakek tua renta itu adalah Pangeran Sumedang.

Mengingat keistimewaannya tersebut Pemerintah Jawa Barat beserta masyarakat merasa perlu untuk memberikan perlindungan terhadap produk Ubi Cilembu berdasarkan Indikasi Geografis (IG). Supaya kedepannya tidak ada yang mengklaim Ubi Cilembu sebagai produk khas miliki daerahnya

Maka setelah melalui berbagai penelitian dan studi kelayakan yang cukup panjang, dan pemeriksaan administrasi serta penilain substantif yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal HKI dan Tim Ahli Indikasi Geografis, akhirnya Ubi Cilembu diterima sebagai salah satu produk Indikasi Geografis Indonesia.


Dengan demikian Ubi Cilembu Sumedang telah memiliki Hak Paten sehingga tidak dapat lagi diakui oleh negara manapun dan tidak dapat dipalsukan karena telah mendapatkan kepastian hukum yang mengikat.

Sebagai produk unggulan lokal, Ubi Cilembu kemudian terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Cilembu dalam berbagai bentuk varian makanan. Tidak mengherankan jika Ubi Cilembu kemudian menjadi salah satu dari 5 makanan Top dan khas dari Sumedang. Permintaan produk Ubi Cilembu pun terus meluas.

Berdasarkan artikel yang ditulis +Mang Lembu di blog desacilembu.com, Ubi Cilembu dalam pemasaraannya telah dikirim ke berbagai negara, seperti Jepang, Singapura, Malaysia dan Korea.


Yang artinya produk lokal ini (yang hanya bisa tumbuh dengan baik di Desa Cilembu) telah dikirim ke luar negeri (yang merupakan market global dalam pemasaran). Contoh nyata bagaimana sebuah produk lokal bisa menjangkau market global.

So,think globally, act locally

Source artikel dan dokumentasi gambar : 
http://www.desacilembu.com/ (tank's to +Mang Lembu )

You Might Also Like:

Share this:

Add Your Comment!
Hide Comment!

Disqus Comments