Alone Together Syndrome aka Connected But Feel Lonely

Alone Together Syndrome aka Connected But Feel Lonely

"Era hyper connected, ternyata telah menimbulkan komplikasi bagaimana cara kita memberikan atensi, yang kemudian diam-diam memunculkan perasaan alone together syndrome atau connected but feel lonely- yaitu walau sedang bersama teman tapi merasa sendirian"

Era digital kawan, telah mereduksi jarak dan waktu dalam kehidupan. Internet telah mengubah sebagian besar aspek kehidupan manusia, mengubah gaya hidup, cara bertransaksi, belanja baju, buku dan cara mengobati rindu (dulu kirim surat, lama banget. Sekarang tinggal video call, eh wajah yayang nongol),

Termasuk bagaimana cara manusia berbagi dan terkoneksi - sangat terkoneksi (hyper-connected) - karena internet telah membuat jarak dan waktu menjadi saru*. Internet bahkan mereduksi dunia** ini dengan semua informasi yang diproduksi di dalamnya hanya dalam segenggaman tangan.

(Ayo kita visualisasi dulu) dunia segenggaman tangan tadi dilihat-lihat, (trus ada dialog dalam hati) setahu saya dulu bumi** itu bulat tapi ketika dalam segenggaman tangan ia berubah menjadi persegi empat bahkan ada yang bisa dilipat (hayo apa)

Parahnya, walau jarak boleh tak tampak, waktu hanya tinggal residu, kebutuhan manusia dalam situasi terkoneksi itu tetap sama, itu-itu juga. Manusia butuh orang lain (teman dan pertemanan) untuk menemani, mendengarkan dan memberi perhatian. Untuk kebutuhan itu bolehlah kita bersyukur karena kita ternyata masih tetap mahluk sosial (gak ikut-ikutan berevolusi jadi mahluk nokturnal)

Masalahnya, ketika aktivitas kehidupan yang kita jalani setiap hari sudah sedemikian sangat terkoneksi (hyper connected), membuat kita semakin sulit menemukan ‘jenis pertemanan’ seperti itu (yang mau mendengar, menemani, memperhatikan, bawain belanjaan, antar jemput-an, angkat jemuran, nyuci sekalian...cukup...cukup...jangan diteruskan).

Teman dalam pengertian sebenarnya kini seakan makin langka keberadaannya. Kalau toh ada kita cenderung tak mudah begitu saja percaya. Pola hubungannya pun standar (untuk tidak mengatakan sekedar), kebanyakan tidak terlalu akrab tapi juga tak terlalu renggang. Hanya sekadar ‘Pas’.

Gejala tentang hal ini telah dilaporkan oleh Erin Davis dan Profesor Sherry Turkle dalam penelitiannya yang telah dibukukan, bahwa ada keluhan yang terus meningkat di kalangan pengguna internet yang merasa semakin kesepian karena merasa tidak lagi mendapat perhatian, tidak didengarkan, diabaikan oleh orang-orang disekitarnya.
.
Indikator ini juga tampak dalam penurunan kualitas hubungan, serta pudarnya kedalaman relasi personal secara real time, antara kerabat, saudara, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita.

Awalnya mungkin kita membayangkan dengan internet kita akan semakin terhubung ke siapa saja, dimana saja mereka berada dan akan membuat relasi kita ada dimana-mana. Tapi studi yang dilakukan Erin Davis dan Profesor Sherry Turkle telah mencatat, bahwa fenomena dimana 'semakin mudahnya kita terkoneksi' ternyata berdampak terbalik dengan apa yang kita harapkan.

Alih-alih berharap lebih bahagia dengan banyak teman yang terhubung justru membuat semakin terkucil. Alih-alih merasakan kebebasan justru mendorong kita semakin terjerumus ke dalam penjara yang kita buat sendiri.

Era hyper connected, ternyata telah menimbulkan komplikasi bagaimana cara kita memberikan atensi, yang kemudian perlahan dan diam-diam memunculkan perasaan alone together - yaitu walau sedang bersama teman tapi merasa sendirian.

Lebih parah lagi, efek connected yang hyper bahkan tidak hanya menimbulkan problem keintiman baru (new intimacy) yang palsu dan semu. Tapi sekaligus juga memicu mekanisme pengucilan diri sendiri (new solitude***).

Mungkin masih terlalu dini untuk menyadari bahwa meningkatnya durasi dan intensitas ber-online ria, dapat memicu gejala psikis yang negatif: Seperti lebih betah dan merasa lebih secure (aman) di lanskap virtual, ketimbang di kehidupan nyata dengan relasi aktual. Hal ini berkonstribusi dalam membentuk perasaan terkucil dan perasaan inilah yang menjadi penjara bagi diri sendiri.

Sebagaimana dibahas di awal, fenomena hyper connected berkorelasi terhadap peningkatan potensi sindrom defisiensi atensi (dibaca: haus perhatian, mudah iri-an). Misalnya, merasa iri ketika orang yang ter-connect ke jejaring sosial kita (terkesan) lebih bahagia. Pun tak bisa menerima, jika kehidupan orang lain (ternyata) lebih beruntung.

Maka, demi untuk menjaga agar batinnya tak terluka atau kecewa dan tetap memiliki teman online, antar individu yang saling terhubung (connected) tadi pun mengembangkan kemampuan self defense mechanizm  (mekanisme pertahanan diri), dengan cara membangun cangkang perlindungan dan filter sosial bagi dirinya sendiri.

Sebagian diantaranya melakukannya dengan membuat identitas lain dari dirinya, dengan fasilitas yang tersedia di lanskap digital setiap orang bisa membuat dirinya dalam identitas yang multi-persona di berbagai jejaring media sosial. Tanpa disadari bawah ia sedang menarik dirnya semakin jauh dari hubungan yang lebih nyata.

Tujuannya, agar tetap bisa mengontrol sepenuhnya standar kriteria attention dan relationships saat berinteraksi - seperti dengan siapa, kapan, tentang urusan apa yang diberikan perhatian tanpa kehilangan rasa aman. Sekaligus mengontrol bagaimana pola hubungan dilakukan, berapa lama harus berinteraksi dan berbagi perhatian, antar-satu-sama-lain.

Sebagai bagian dari upaya defensif tadi, masing-masing kemudian semakin membenamkan diri ke dalam aktivitas di wilayah teritorialnya. Terus dan semakin asyik bahkan kecanduan menghabiskan banyak waktu dengan gadget dan atau ber-online ria - non-stop (always-onconnected 24 jam.

Alasan untuk ini cenderung lebai kawan - karena gadget atau smartphone dianggap lebih setia daripada sesama manusia, lebih terpercaya, lebih mau mendengarkan dan siap menemani kapan pun, bagaimana pun dan di mana pun. Ketika hal ini semakin intens batin pun akan mengalami defisit makna (merasa kosong), hampa dan kesepian. Padahal sedang - sangat - sibuk - terhubung dengan banyak orang.

Baiklah, untuk tidak terlalu merasa skeptis tentang hal ini, kita juga tidak harus 'terpaksa' memungkiri bahwa teknologi telah membuka banyak opsi, dimana perkembangannya memungkinkan kita bisa melakukan banyak pekerjaan di waktu yang bersamaan. Sehingga banyak urusan kita yang bisa diselesaikan dari tempat manapun, kapan pun dan dengan piranti apapun pendukungnya, tentu saja.

Pada akhirnya, terlepas kita percaya atau tidak, pelan-pelan cara kita berekspresi, mengapresiasi, berinteraksi, mengharapkan hubungan sejati dan bereaksi terhadap dunia ini semakin dipengaruhi dan dibentuk oleh cara kita berteknologi.

Akibatnya apa yang kita harapkan dengan teknologi dan yang terjadi kemudian - yang kita terima justru sebuah anomali. Kemudahan mengakses koneksi justru mengurangi kualitas dari hubungan yang kita miliki. Mengharapkan teknologi sebagai jembatan mendapatkan sebanyak-banyaknya kebahagiaan (atau kesenangan) justru semakin membuat kita tidak berarti.

Boleh saja kita merasa kitalah yang mengendalikan (teknologi) kawan padahal mungkin kita sedang diarahkan. Saatnya membuat keseimbangan, bagi waktu untuk kembali menjadi manusia sungguhan. Menjadi manusia tradisional, menjadi manusia konvensional.

* tidak jelas
** dunia aspek psikologis-historis, bumi aspek fisik-geografis
*** Solitude, Solitonin - ombak penyendiri yang mengarungi samudra

You Might Also Like:

Share this:

Add Your Comment!
Hide Comment!

Disqus Comments